Thursday, July 14, 2005

Sinetron Adalah Singkatan Dari Sinema Elektronika

Anda penikmat sinetron? Mungkin sebuah tulisan kecil dibawah ini dapat anda nikmati. Sejarah sinetron Indonesia sebenarnya masih muda. Dimulai dari serial Losmen, yg diputar di TVRI sekitar akhir dasawarsa 80-an. Dilanjutkan dengan Salah Asuhan, Siti Nurbaya dan Jendela Rumah Kita yg diputar di stasiun televisi yg sama diawal 90-an. Sinetron-sinetron ini berawal dari gagasan luhur sebagian kalangan di Indonesia, entah dari film atau teater untuk menyajikan edutainment, hiburan yg mendidik, kepada masyarakat. Jangan heran bila anda menonton Losmen, maka anda akan menyaksikan tayangan yg kental dengan nilai budaya Jawa tradisional, diadu dengan nilai budaya modern yg disebut ‘Barat’. Demikian pula Siti Nurbaya yg kental dengan semangat emansipasi perempuan. Sinetron-sinetron ini sukses, mencetak hits dan ditonton oleh jutaan pemirsa tiap malamnya. Nama seperti Bu Broto, Datuk Maringgih atau Mindun menjadi ikon yg sangat akrab dengan kaum pencinta televisi masa itu.

Namun kemunculan sinetron sebagai sebuah industri baru dimulai di awal dasawarsa 90-an. Pada masa itu dunia perfilman Indonesia terseok-seok menghadapi gempuran film asing Barat dan Mandarin. Beberapa langkah diupayakan oleh para pengiat perfilman. Termasuk langkah menyedihkan dengan membuat film buka paha dan sekitar wilayah dada yg sempat merajai bioskop-bioskop nusantara. Tapi toh apa boleh buat, walaupun tren membuat film aneh ini lumayan sukses, (Kenapa aneh? Coba anda tonton lalu tebak jenisnya. Dibilang bokep kok nangung, drama kok lucu, komedi kok menegangkan, akhirnya yah bingung.) tapi gagal menyelamatkan industri perfilman kita saat itu.

Maka eksoduslah para pelaku perfilman kita berame-rame. Aktor, aktris, sutradara, produser, hingga tim paska produksi dan tukang genset berduyun-duyun meninggalkan film dan mengerjakan sinetron. Ditambah lagi dengan munculnya stasiun-stasiun televisi swasta pada masa itu bagai jamur di musim hujan, yg menimbulkan banyaknya kebutuhan untuk program siap tayang, membuat sinetron menjadi lahan subur. Sebaliknya, kalah kapital, generasi sebelumnya malah terpinggirkan dari dunia persinetronan kita, perlahan mulai digantikan oleh orang-orang film.

Wajah Sinetron Kita
Dalam wawancaranya dengan salah satu majalah pria, tokoh penting sinetron Indonesia modern yg mantan orang film, Raam Punjabi, membuka prinsipnya dalam bersinetron. Secara tidak langsung beliau mengatakan bahwa sinetron Indonesia adalah industri, mesin ekonomi. Fungsinya: menghasilkan income, laba. Karena itu prioritas utama dari satu sinetron adalah sinetron tersebut dapat dijual. Soal idealisme luhur atau semangat mendidik, itu nomor sekian, yg penting harus bisa dijual dan laris seperti kacang dulu. Jadi terjadi pergeseran konsep disini, kalau semula adalah idealisme, sekarang adalah uang. Kalau dulu edutainment, sekarang malah berubah menjadi tayangan opera sabun serba komersil. Tapi apa boleh buat, ternyata opera sabun lebih laris buat jiwa masyarakat kita yg ndangdut.

Hasilnya, simaklah wajah sinetron Indonesia modern. Cerita yg tidak realis, latah terhadap tren, kental dengan semangat menjual mimpi dan fantasi serba indah, menegangkan-mencengangkan. Ditambah lagi dengan kecendrungan aneh terhadap season (musim tayang). Bila satu sinetron sukses maka harus diteruskan ke season berikutnya, tidak peduli walau seharusnya sudah selesai, hasilnya: cerita yg kehilangan arah, memuakkan dan membosankan, lihat Tersanjung misalnya, yg entah sekarang sudah sampai season ke berapa. Bila satu sinetron sukes, maka Production House yg lain mesti cepat bikin sinetron seperti itu, harap maklum aji mumpung.

Bagian paling parah adalah dua elemen terpenting dari sinetron itu sendiri. Cerita yg ditulis script writers dan akting para pemain yg menyajikan cerita itu. Script writers kita mesti ‘digosok’ dan ‘dikerok’ semua karena membuat cerita yg aneh dan dialog yg bodoh. Anda tentu sama bingungnya dengan saya melihat sinetron Cinta SMU yg cerita awalnya tentang liku mengejar cewek favorit sekolahan itu entah bagaimana jadi kejar-mengejar dengan pocong (???). Atau anda pernah lihat adegan ibu tiri yg jahat berkata pada diri sendiri “Biar mampus dia,” sambil tertawa ngakak? Walau maksudnya agar penonton geram, tapi saya yg menonton malah ikut ketawa ngakak. Tidak, bukan karena saya juga jahat, tapi saya tidak tahan melihat adegan bodoh tersebut.

Kalau anda merasa para script writer sudah cukup ‘horor’ maka akting pemain kita juga sama horrible-nya. Entah kenapa, dalam proses kasting. Para talent searcher masih memakai tolak ukur yg mereka pakai saat membuat film-film aneh di awal dasawarsa 90-an: tampang mulus. Anda punya tampang indo, india, atau oriental, atau cukup melayu saja namun mendayu-dayu? Daftar segera, siapa tahu anda bisa tenar jadi bintang sinetron. Soal kemampuan akting? Oh itu nomor sekian, sebab tampanglah yg dijual. Jangan heran bila menonton sinetron Indonesia yg anda lihat adalah akting yg kaku dan dibuat-buat. Atau over-akting seperti aktris kesayangan kita Tamara B. itu.

Oase Dunia Sinetron Indonesia?
Sehancur itukah dunia sinetron kita? Adakah oase harapan ditengah keputus-asaan? Mungkin ada. Entah anda melihat itu atau tidak, tapi disaat-saat tidak terduga selalu muncul sinetron yg melawan arus dan tren masa itu, yg diterima baik oleh masyarakat, bahkan sukses. Namun sudah jelas, kebanyakan dari sinetron tersebut adalah hasil produksi para pemain lama yg idealis, yg berusaha bangun dari ketersingkirannya atau pemain baru yg sama idealisnya. Judul yg mesti dicatat antara lain: Si Doel Anak Sekolahan, Keluarga Cemara, Satu Kakak Tujuh Ponakan, atau yg terbaru saat ini Bajaj Bajuri.

Namun pada akhirnya dapat ditebak, sinetron idealis itu pasti berhadapan dengan pilihan: berkompromi terhadap arus yg ada, atau mati. Hasilnya: beberapa sinetron putus ditengah jalan dan beberapa lagi selesai tanpa ending yg jelas, seakan si pembuat tidak tega (atau tidak berani?) untuk mengakhiri dengan apik. Contohnya ya: Keluarga Cemara yg dibintangi oleh aktor teater Adi Kurdi serta Satu Kakak Tujuh Ponakan yg dibintangi oleh aktris senior Novia Kolopaking.

Bila sukses, maka sinetron itu kembali terjangkit penyakit season yg mewabah itu. Si Doel Anak Sekolahan berusaha mati-matian mempertahankan suksesnya hingga season ke-6 dengan cerita yg bertele-tele, walau sebenarnya di season 3 atau 4 dapat diakhiri. Cerita yg dipaksakan ini membuat kualitasnya semakin menurun, membuat Si Doel kehilangan gregetnya. Kurang lebih sama dengan Bajaj Bajuri yg dirasa semakin lama semakin over-played dan membuat jenuh.

Sinetron dan Saya
Apakah saya penikmat sinetron? Pertanyaan yg sulit dijawab. Saya menonton sinetron bila sedang kurang kerjaan, tapi sangat jarang mengikuti dengan serius. Namun dulu, walaupun masih kecil saat itu, saya ingat kalau saya sangat menikmati sinetron oldies di TVRI awal 90-an. Menangisi malangnya nasib Siti Nurbaya atau tertawa melihat kecerdikan Mindun. Itu adalah sesuatu yg sangat heart-felt. Dulu saya sempat pula mengikuti dengan serius sinetron yg diangkat dari novel Mira W. Saya lupa judulnya, tapi saya suka ceritanya plus akting Desi Ratnasari-Primus Yustisio. Ternyata saya juga punya jiwa ndangdut.

Secara pribadi, menurut saya sinetron yg ideal harus sinetron yg cerdas dan dekat dengan realita. Sinetron haruslah mendidik, atau setidaknya jadi tontonan yg berkualitas. Sebab, sinetron itu sangat dekat dan akrab dengan masyarakat. Apa yg dilakukan rakyat Indonesia tiap malamnya dari pukul 7 hingga pukul 10 selain menonton sinetron, menangis, tertawa dan geram bersama artis kesayangan mereka. Sungguh roller-coaster of emotions. Jadi jangan sampai sinetron jadi sumber pembodohan. Sayang kenyataannya berbeda, bila melihat televisi kita, saya berani menyatakan bahwa sinetron Indonesia mengabaikan tiap nilai moral dan intelektual yg ada pada masyarakat yg sehat. Heran, masyarakat kita yg kurang terdidik ini mau saja menelan semua mentah-mentah. Sinetron Indonesia sangat perlu dibenahi dengan serius.

2 Comments:

At 10:06 AM, Anonymous Anonymous said...

September a quiet month on island
St. John in the U.S. Virgin Islands is a piece of paradise in the Caribbean. NewsofStJohn.com reports news and information about this special place.
Hey, you have a great blog here! I'm definitely going to bookmark you!

I have a writing instruments site. It pretty much covers writing instruments related stuff.

Come and check it out when you get time

 
At 10:06 AM, Anonymous Anonymous said...

Your blog is creative Keep up the great work. Here's the resolve a lot of people are searching for; how to buy & sell everything, like music on interest free credit; pay whenever you want.

 

Post a Comment

<< Home